Kenangan Sepucuk Surat

E-mail Print PDF

KARYA    : RISMA ASFADINA

KELAS     : XII IPA 2

Bus kota berwarna biru melaju membelah setiap jalan yang di lewatinya. Udara AC yang berhembus di dalam menyejukkan badanku yang sudah kepanasan sejak tadi sebelum masuk di dalamnya. Kota Pekanbaru selalu ramai dengan berbagai kendaraan di sana. Dari balik kaca pemandangan bangunan yang banyak seketika luntur ketika rintik hujan membasahi kaca jendela yang perlahan-lahan mengembun. Aku selalu memandang luar jendela melihat  pemandangan, seolah-olah itu suatu hal yang sangat rugi jika tak  dilihat.

 

Hai, salam kenal

Seketika, aku teringat dengan kisah lampau. Suasana di sini membuatku teringat dengan kaleng-kaleng berisikan surat, yang selalu kubaca di dalam bus sambil memandang pemandangan desaku yang jauh dari tempatku berada sekarang ini.

Ketika itu di dalam bus, hal yang sama kulakukan, di usia 17 tahunku. Memandang panorama alam yang  sama berulang-ulang ketika pergi sekolah atau pun pulangnya. Dari balik jendela satu hal yang selalu kuperhatikan langit biru cerah.

Pagi itu, aku hanya melakukan kegiatan sekolah seperti biasanya. Semua berlalu seperti biasa sampai aku menemukan sebuah kaleng soda yang berisikan surat di dalamnya.

Hai salam kenal

Kalimat perkenalan tertulis di sana. Aku tak menggubrisnya malah kubuang kertas itu dan berlalu pergi.

Keesokkan harinya semua berjalan lancar seperti biasa. Sampai kutemukan kembali kaleng soda berwarna merah yang di dalamnya terdapat surat kecil.

Sepertinya kau tak suka dengan suratku.

Hal yang sama kulakukan. Aku membuang kertas itu beserta kalengnya.

Aku tak tau siapa yang mengirimnya. Kupikir itu hanyalah surat dari orang aneh yang mau menggangguku. Aku tak mau berurusan dengan hal-hal aneh seperti itu. Namun, kejadian surat ini berulang-ulang diberikan secara diam-diam kepadaku melalui laci mejaku. Isinya hanya kalimat yang sama seperti, hai salam kenal, hai, halo, aku ingin mengenalmu Atau seperti  mengapa kau tak membalasnya?, apa kau terganggu, sepertinya kau tak suka dengan surat ini, hei sesekali balas lah. Semacam itu. Itu berlangsung selama 2 minggu, dia mengirim surat tanpa balasan sedikit pun dariku.

***

"Kak Anis!"Aku menoleh ketika seorang gadis berjilbab putih serupa denganku memanggil namaku.

"Ya, bunga?"

"Kak, ada yang memberikan ini untuk kakak."

Gadis itu mengulurkan sebuah kaleng soda berwarna merah. Kaleng lagi? Kupikir setelah  seminggu berlalu kudiamkan dan dia pun tak pernah mengirim surat, dia akan menyerah dan berhenti.

"Kau tahu siapa yang memberikannya Bunga?” Tanyaku sambil menatap gadis itu.

Gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak tahu kak. Tadi pagi ada yng meletakkannya diatas mejaku beserta kertas ini." Dia mengulurkan kertas dirobek setengah kepadaku.

Tolong berikan kepada Anis ya...

"Awalnya aku tidak mau memberikan ini ke kakak. Tapi, sebenarnya aku sudah menerima benda ini selama 3 hari berturut-turut. Kaleng-kaleng sebelumnya aku sudah buang. Kupikir itu hanya surat dari orang yang sedang iseng tapi, sepertinya tidak." Bunga menjelaskan kejadian sebenarnya.

Memang sepertinya yang mengirim ini adalah orang aneh yang tidak kukenali tapi, kenapa dia memaksa sekali untuk membalas surat anehnya ini? Aku mengambil kaleng yang diberikan Bunga kepadaku lalu, naik ke dalam bus yang telah menjemput anak-anak yang sudah pulang sekolah. Aku duduk dibangku nomor dua dari belakang di bagian dalam dekat dengan jendela. Itu tempat favoritku. Aku menatap ke arah luar jendela menatap bangunan sekolah. Bus belum berjalan, menunggu anak-anak yang masih belum keluar sebagian.

Ketika semua sudah masuk ke dalam bus, bus pun bergerak. Alunan gitar yang dimainkan oleh anak-anak bus membuat bus terdengar riuh karena sumbangnya permainan lagu itu. Aku menatap kaleng soda yang kugenggam sejak diberikan oleh Bunga tadi. Ku ambil kertas didalamnya seperti biasa, dan kubaca isinya. Pesan kali ini cukup panjang dari sebelumnya.

Hai, salam kenal. Hahaha… Mungkin kau sudah bosan membaca sapaanku ini. Tapi entah kenapa aku tak pernah bosan menuliskan ini untukmu. Maaf jika aku mengganggumu, dan maaf jika aku menjadi pengagum rahasiamu. Mungkin kau berpikir ini terlihat lucu, karena zaman sekarang masih ada orang aneh yang mau berkirim surat menggunakan kaleng ketika internet sudah berkembang…

Yang dikatakannya benar, aku pernah berpikir seperti itu.

Intinya aku hanya ingin berkirim surat, bercerita denganmu. Ingin mengenalmu, dan tak berniat mengganggumu. Aku harap kau mau membalasnya, walaupun itu hanyalah sebuah kata ‘halo’ saja itu sudah membuatku senang.

Pengagum Rahsiamu

Note: Aku harap kau tak menganggapku sebagai seorang yang aneh. Terima kasih ya, Anis.

Anis? Dia tahu namaku. Apakah aku mengenalnya? Aku menggengam kertas itu, sambil menatap keluar jendela. Terlukis pemandangan yang setiap hari kulihat dan kulalui. Perkebunan jagung atau cabe yang berjejer rapi. Di desaku tak pernah ada padi, mungkin karena lahannya yang tidak cocok atau ada penyebab yang lain, akupun tak tahu.

Bus membelah jalan yang sedikit sepi menuju rumahku. Langit biru yang teduh di campuri cahaya sinar matahari pukul 15.00 membuat bus tetap masih terasa hangat. Aku suka sekali suasana ini. Suara senar gitar mengalun lembut ketika pemusiknya telah berganti dengan orang yang lebih handal daripada yang sebelumnya. Seketika aku terlelap sambil dibuaikan oleh hembusan lembut angin yang masuk dari kaca jendela yang terbuka setengah. Aku terlelap melepas lelah dan melupakan sepucuk surat yang kugenggam ini.

***

Hai, maaf jika selama ini mengabaikan suratmu, dan maaf sebelumnya aku sempat menganggapmu seorang yang aneh bahkan seorang yang iseng terhadapku. Aku tak pernah mengenalmu. Aku tak pernah berkirim suratseperti ini sebelumnya dengan siapa pun. Aku sebenarnya tidak berniat ingin membalas ini tapi seperti kucing mencium bau ikan yang tak tampak, aku penasaran dan bertanya-tanya. Banyak sekali hal yang ingin kutanyakan. Seperti, Siapa kau? Mengapa kau mengagumiku? Mengapa harus berkirim surat? Kau benar, lucu sekali ketika kau memilih untuk mengirim surat dari pada memberikan pesan singkat melalui SMS atau pun via internet lainnya. Aku memiliki banyak pertanyaan tapi kau bisa menjawabnya satu persatu. Tapi, bolehkah aku tahu siapa kau sebenarnya?

Anis

Note: Jangan berikan kaleng ke orang lain lagi, jika kau berniat baik suratmu pasti kubalas.

Rangkaian kata tertumpahkan di atas kertas putih yang kuambil dari pertengahan buku tulisku. Aku menulis balasan surat itu sebelum aku rebah di atas tempat tidurku. Aku memasukkan suratku ke dalam kaleng seperti yang dia lakukan dan mulai terlelap tidur. Aku hampir terlelap sampai mataku terbuka kembali ketika aku teringat bagaimana caranya aku memberikan surat itu kepadanya sedangkan aku tidak tahu dia siapa dan dimana?

Aku berguling-guling di atas tempat tidurku, berpikir bagaimana caranya. Apa aku tidak usah membalasnya saja? Oh tidak, itu sama saja aku telah membuat suatu hal yang sia-sia. Apa aku berikan kepada Bunga saja? Tidak-tidak, Bunga juga tidak tahu siapa yang meberikannya. Aku berpikir sebentar. Ah! Apa aku letakkan saja di bawah laci mejaku bisa saja dia mencarinya didalam sana, tapi bagaimana jika dia tidak tahu?

Aku mendesah pikiranku sedang berperang antara memberikan solusi dan masalah. Sampai aku lelah sendiri dan tertidur.

***

Kaleng soda yang berisikan surat kuletakkan di dalam laci mejaku.

Jam Istirahat aku duduk dikantin bersama teman-temanku. Semangkok bakso terhidang di hadapanku. Dengan secepat kilat aku melahapnya.

“Kak Anis!” Suara yang kukenal memanggil namaku.

“Iya, Bunga?”

“Apa surat itu kakak balas?” Gadis bermata hazel itu berbisik bertanya kepadaku. Sebelumnya aku sudah mengatakan kepada Bunga untuk merahsiakan hal ini dari yang lain. Aku tak mau ada yang tahu dan ricuh dengan kejadian ini. Aku mengangguk, menjawab pertanyaanya.

Gadis itu menarik kursi di hadapanku dan duduk bersama. Ketika dia ingin membuka mulutnya hendak bertanya aku langsung mengangkat tanganku memberikan tanda stop lalu berkata “Lebih baik, kita bicarakan hal ini di bus saja, Bagaimana?”

Bunga mengangguk pelan mengerti, lalu pergi meninggalkanku.

Di bus aku menceritakan apa isi surat itu kepada Bunga. Respon Bunga sama sepertiku, penasaran. Bus melaju menuju ke arah rumah. Aku menatap keluar jendela berpikir apa yang akan dibalas oleh dia si pengagum rahasiaku itu.

***

Keesokkan harinya, aku duduk di dalam bus hendak pulang. Siang itu gerimis meyelimuti desa kecilku itu. Kaca bus mengembun karena suhu yang semain rendah. Gerimis sebelumnya kini perlahan berganti menjadi hujan yang cukup lebat. Sebagian teman satu busku berlari-lari kecil dari sekolah menuju bus untuk menghindar hujan yang semakin menyerang, seperti pistol air dengan skala besar.

Lagu Imagination dari Shawn Mendes terdengar indah melalui earphone di telingaku. Bus melaju seperti biasa. Aku tersenyum menatap kaleng soda yang kini warnanya berubah dari merah menjadi orange. Entah mengapa aku merasa senang dengan balasan surat yang kudapat ini. Ini menjadi suatu hal yang kutunggu-tunggu. Padahal sebelumnya aku selalu mengabaikan surat-surat ini.

Aku mengambil kertas di dalamnya dan mulai membacanya.

Langit berhiaskan bintang-bintang menemaniku menuliskan rangkaian kata dan kalimat di surat ini. Indahnya bulan seolah-olah menggambarkan betapa senangnya aku mendapat balasan darimu. Setidaknya, aku tidak diabaikann lagi hehehe…

Aku sudah mengira kau pasti memiliki banyak pertanyaan untukku. Akan kujawab tapi, mungkin ada beberapa jawaban yang tidak akan memuaskanmu.

Pertama siapa aku? Maaf biarlah aku seperti bunglon yang menyamar mengikuti tempat yang ia duduki. Seperti tertulis di dalam surat sebelumnya aku hanya seorang pengagum Rahasiamu. ‘Rahasia’ Jadi aku tak bisa memberitahumu. Biarlah ini menjadi Rahasia saja.

Kedua, mengapa aku mengagumimu? Nanti aku akan memberitahumu tapi tidak sekarang.

Ketiga, Mengapa melalui surat? Aku ingin ini menjadi suatu hal yang spesial yang jarang sekali orang zaman sekarang lakukan. Aku ingin setiap kertas balasan darimu kuarsipkan dan kusimpan.  Aku ingin ini menjadi kenangan yang tak mudah untuk kau lupakan.

Itu mungkin beberapa pertanyaan yang bisa kujawab untuk mu.

Pengagum Rahasiamu

Note: Alasan mengapa menggunakan surat aku harap kau juga menyimpan setiap surat dariku.

Hujan semakin lebat, membuat rasa dingin semakin menguasai tubuhku. Aku memandang kaca jendela yang mengembun. Suasana di seberang jendela tak tampak olehku hanya pudaran. Benar katanya, aku tidak terlalu puas dengan jawabannya. Aku ingin tahu siapa dia? Dan Alasan mengapa dia mengagumiku. Aku tak mau terlalu menunggu dan bersabar. Tapi, jawaban pertanyaanku hanya bisa di jawab olehnya. Aku terpaksa menunggu.

***

Cahaya terang lampu belajar di mejaku memberikan pencahayaan di dalam ruangan kamarku yang gelap gulita. Aku merangkai beberapa kata balasan untuknya di suratku. Diatas meja lembaran kertas sudah sebagian kalimat kutulis diatasnya. Tinta hitam tercoret-coret di dalamnya.

Kau benar, aku sedikit kecewa dengan jawabanmu. Tapi, apakanlah daya aku hanyalah sebatang pohon yang menunggu untuk disaram dan diberikan pupuk olehmu. Aku harus menunggu. Tapi, kau harus ingat pohon ini juga akanlayu dan matijika tidak kau berikan air dan pupuk. Aku harap itu takkan terjadi tapi, aku pasti menunggu.

Hm, Sepertinya kita harus merubah topik pembicaraan kita, jangan seperti question and answer. Jika seperti ini terus, ini akan mengingatkanku dengan Webtoon yang kubaca. Dimana kreaturnya selalu membuat Q&A untuk pembaca sampai-sampai ceritanya tidak berlanjut :D

Mulai sekarang ayo bercerita tentang kegiatan sehari-hari.

Aku biasanya suka membaca beberapa novel. Aku sangat suka membaca novel yang tebal dari pada yang tipis karena aku merasa yang tipis ceritanya akan membosankan tapi ternyata tidak semuanya seperti itu. Aku ini tipenya sangat pendiam tapi juga bisa ribut jika dengan teman-teman yang aku kenal.

Maaf ya, aku ngoceh tak beraturan di surat ini. Kau bisa mengabaikannya.

Sepertinya hanya ini yang bisa aku tulis. Aku kehabisan ide hehehe…

Anis

Note: Seperti yang kau harapkan, surat-suratmu kuarsipkan juga, walau yang pertama-tama sudah aku buang. Maaf ya.

Aku menutup penaku, lalu memasukkan surat itu ke dalam kaleng soda.

***

Selama sebulan lebih kami saling berkirim surat dan, selama sebulan itu pula aku tak pernah tau siapa dia yang telah menulis dan berkirim surat denganku selama ini. Banyak sekali kaleng-kaleng berwarna-warni yang tersusun di meja belajarku semua itu dia yang memberikannya beserta dengan surat-suratnya. Sebuah map berwarna biru tua kubuka didalamnya terdapat surat-surat bertuliskan tangan indah darinya. Didalam surat-surat itu kami hanya bercerita tentang kegiatan kami sehari-hari. Terkadang aku menyelipkan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan pertama kali ketika aku membalas surat darinya.‘Siapa kau?’ Tapi, jawabannya tetap sama,‘Aku hanya Pengagum Rahasiamu’.

Salah satu tebakanku yang tepat ialah ketika aku menebak dia adalah seorang anak laki-laki. Awalnya, dia tidak mengakuinya tapi dengan desakanku, akhirnya dia mengakuinya. Aku menanyakan alasannya selalu dia diamkan saja. Terkadang itu terasa sedikit menyebalkan, tapi itu hilang ketika dia mulai mengirimkan rangkaian kata-kata indah untukku ataupun berceritatentang lelucon yang dia lakukan terhadap teman-teman kelasnya, atau bahkan memberikan teka-teki receh yang tak bisa kujawab. Teka-teki yang menantang, karena untuk mendengar jawaban benar-salahnya saja harus butuh sehari untuk mengertahuinya.

Anehnya, walau sudah sebulan berkirim surat, walau aku sudah penasaran bukan kepalang entah mengapa aku tak pernah mau mencari tahu siapa dia dengan sendirinya. Padahal aku bisa menyelidikinya atau bahkan mengikuti saran Bunga “Kakak sembunyi saja di belakang meja guru itu atau pun di tempat yang dia takkan menyadari kakak ada di kelas ini. Jadi, kakak bisa menangkap basah dia. Dari pada penasaran dan menunggu terus. Bisa saja dia benar-benar orang iseng yang sengaja ingin mempermainkan kakak. Kitakan tidak pernah tahu.” Walau sudah mendengar pernyataan Bunga yang masuk akal itu, entah mengapa aku malah menolak. Terbesit didalam pikiranku, Ah! Mungkin dia butuh waktu, atau biarkan saja aku penasaran, ini akan semakin seru.

Hanya pikiran itu saja yang selalu membantuku untuk berpikir positf mempercayainya. Sampai suatu ketika, Aku mendapat balasan surat yang isinya berbeda dari biasanya. Surat yang perlahan-lahan membuat aku menjadi berubah. Surat yang menjawab sebagian pertanyaanku yang jawabannya tertunda selama sebulan.

Sore itu hari mendung dan perlahan-lahan rintik hujan menyerang bumi. Bau khas aspal basah bercampur dengan bau oli bus tercium dari hidungku. Semenjak berkirim surat aku mendapat kegiatan baru, yaitu membaca surat ketika bus berjalan. Hawa dingin dari hujan menusuk tulang-tulangku. Aku membuka surat dari kaleng yang kali ini berwarna hijau dan membacanya.

Anis, sudah sebulan lebih kita berkirim surat, dan selama sebulan lebih ini juga aku sudah lebih banyak mengenalmu daripada sebelumnya. Aku mengenalmu yang sangat suka sekali memandang panorama alam dari luar kaca jendela bus, atau menampung air hujan ditelapak tangan ketika dirumah atau punketika sedang menunggu seseorang. Aku mengenalmu ketika malam hari yang sangat suka membaca novel romantis dan misteri. Aku mengenalmu yang sangat suka memandang langit biru ketika hari cerah. Aku mengenalmu ketika kau mengatakan tidak suka dengan pelajaran sejarah atau pun suara gong-gongan anjing. Aku mengenalmu yang menjerit ketika melihat cicak atau pun kecoa.

Aku tertawa pelan membaca isi surat tersebut.

Aku salut dengan kesabaranmu yang masih menunggu jawban dariku. Kau begitu mempercayaiku. Terima kasih kuucapkan untukmu.

Lalu, Kau pernah bertanya diawal-awal suratmu. Mengapa aku begitu mengagummu? Mungkin aku bukan mengagumimu Seperti rasa kagum orang-orang pada umumnya. Mungkin aku bukan mengagumimu. Mung ah tidak!

Aku terhenti ketika menyadari ada coretan di dalam suratnya. Padahal selama ini dia selalu menulis rapi surat untukku itu. Aku memandang surat itu lalu melanjutkan membacanya.

Ah tidak! Mungkin selama ini aku ingin mengenalmu dan tertarik padamu, mungkin, ah bukan mungkin! Tapi, karena aku sudah menyukaimu dari sejak awal aku mengenalmu. Aku menyukaimu Anis.

Aku terdiam. Tanganku bergetar membaca setiap kata yang di tulis olehnya. Dia menyukaiku? Aku bertanya-tanya di dalam hati, apakah ini jawaban pertanyaanku selama ini yang tertunda. Dia ingin mengenalku karena dia menyukaiku?

Hujan yang lebat perlahan-lahan berhenti cahaya mentari mulai memunculkan wajahnya. Aku termenung memandang keluar kaca jendela. Hatiku tidak tenang, apa yang harus aku balas? Membaca kata-perkata dalam surat itu membuat peraaanku bercampur aduk, antara senang dan sedih. Aku senang karena mungkin, aku juga telah menyukainya tapi sedih ketika berpikir bagaimana mungkin aku bisa menyukai orang yang tidak pernah kukenali bagaimana bentuk dan rupanya bahkan namanya pun aku tak tahu.

Semenjak mendapatkan surat itu aku hanya terdiam menatap surat kecil itu. Aku tak pernah membalas suratnya selama 3 hari dan dia pun tak pernah mengirimkansuratkepadaku. Hal ini pun aku rahasiakan dengan Bunga. Sepertinya gadis bermata hazel itu tidak perlu tahu.

Saat itulah masa jeda bagi kami yang tak pernah berkirim surat selama sebulan.

***

Hai Anis, sudah lama ya kita tak berkirim surat. Sebenarnya selama ini aku menunggu jawaban darimu tapi, kau tak pernah membalasnya. Hahaha lucu sekali aku ini, berani berharap bahwa kau akan membalas suratku bahkan berpikir kau akan menrimaku. Tapi, bunga mana yang akan bermekaran ditempat yang dimana dia sendiri tak tahu dia berada dimana?Bunga mana yang ingin mekar jika dia sendri tidak tahu tempat itu cocok atau tidak untuknya, apakah tempat itu dingin? Atupun Panas? Bagaimana dia bisa mekar jika dia tak tahu. Sama sepertimu, Bagaimana mungkin kau ingin cintamu bermekaran dengan orang yang tak pernah kau kenali selamaini bentuk dan rupanya.

Aku tahu kau hanya mengenalku lewat tulisanku di surat-suratku selama ini. Mungkin kau mengenaliku, yang di mana ketika hujan akan menyanyikan lagu My Love dari Westlife. Mungkin kau mengenaliku yang selalu meberikan teka-teki aneh kepada kau. Mungkin kau mengenaliku sebagai orang aneh yang tiba-tiba memberikan surat dengan ucapan salam kenal di dalamnya. Mungkin kau mengenaliku yang selalu memberikan kaleng-kaleng berwarna-warni untukmu. Mungkin kau akan mengenaliku di suatu saat tanpa perlu kuberitahu siapa aku sebenarnya.

Anis, aku mungkin berharap bahwa kau akan membalas perasaanku tapi, sekarang berbeda aku tak berharap lagi kau akan membalas perasaan orang aneh sepertiku ini. Mungkin ini adalah surat terakhir yang akan aku berikan padamu, walau kau membalas surat ini, aku minta maaf Anis aku tak dapat membalasnya lagi. Aku harus pergi.

Yang perlu kau tahu aku benar-benar menyukaimu, sangat menyukaimu. Kau seperti Hydrangea yang tak pernah aku lihat secara langsung. Kau seperti Hydrangea yang indah ketika kulihat dari kejauhan. Kau tak perlu mengenalku Anis, aku hanya seekor bunglon yang sedang bersembunyi didekatmu.

Maaf ini lah surat terakhirku untukmu.

Pengagum Rahasiamu

Note: 15 Desember 2018

Rintik air hujan membasahi bumi, sama seperti rintik air mataku yang tumpah dipipi membasahi sedikit kertas yang kubaca dari tadi. Aku menangis membaca setiap kata dari sosok misterius yang telah memberikan surat terakhirnya padaku. Aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi.

Bus sekolah melaju membelah jalan yang ia lalui. Meninggalakn sekolah dan berangkat menuju rumah. Hari itu, hari dimana aku pertama kalinya mengabaikan untuk melihat panorama alam yang berada diluar jendela kaca bus yang mengembun dingin. Hari dimana aku menangis menggenggam sepucuk surat dan sebuah kaleng soda berwarna merah.

***

Tiiiinnn!! Tiiinnn!! Tiiinn!!!

Bunyi klakson bus kota berwarna biru, seketika mengejutkanku dari lamunan lamaku. Hujan masih belum reda masih ada sisa rintik-rintik. Tanganku terangkat pelan, aku menghapus embun yang menghalangi pemandangan dari luar kaca jendela bus kota ini. Mengenang masa lalu tanpa terasa telah membuat sedikit air mataku mengalir pelan seperti rintik-rintik hujan ini.

Itu hanyalah sebuah kenangan sepucuk surat yang kudapat di usia 17 tahunku yang tak pernah kuketahui siapakah sosok pengagum rahasiaku itu yang telah merangkaikan kata-kata indah dan menghiburku. Surat terakhir darinya kuarsipkan bersama dengan kumpulan surat-surat lain darinya. Balasan? Aku pernah membalas surat itu tapi tak pernah kudapati balasan darinya sedkikit pun. Dan surat yang kuletakkan di dalam laci mejaku hanya tetap disana tidak pernah dibaca sampai ada yang membuangnya ketika aku lulus dari sekolah. itu benar-benar surat terakhir darinya.

Apakah aku akan mengenalnya di suatu tempat nanti? Aku pun tak tahu.

Bus kota biru berjalan melalui setiap seluk-beluk jalan umum kota Pekanbaru. Mengingatkaknku dengan kenangan lama. Kenangan sepucuk surat yang di berikan dengan kaleng-kaleng berwarna-warni. Kenangan yang menginngatkanku dengan sosok yang tak pernah kukenali siapa dia hingga saat ini.

Andaikan dia membaca surat terakhirku dan membalasnya, mungkin kami akan saling mengenal satu sama lain.

***

Hei, apakah itu benar-benar surat terakhir? Bagaimana jika aku mengatakan bahwa, Aku juga menyukaimu?

Aku juga menyukaimu, pengagum rahasiaku.

Jadi, jangan pergi dan jangan membuat surat itu dan ini mejadi surat terakhir kita.

Anis

Note: Aku harap kau membalasnya…

-TAMAT-

Share
Last Updated ( Wednesday, 19 September 2018 07:28 )  

Login Form



User Menu



You are here: Home Hasil Karya Cerpen Kenangan Sepucuk Surat